Opini Detail

Merayakan Angka, Melupakan Manusia: Refleksi 499 Tahun Kemegahan Semu Jakarta

Oleh: Ahmad Zaki (Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan MD KAHMI Jakarta Pusat

Sebentar lagi, spanduk-spanduk megah berslogan optimistis akan kembali menghiasi setiap sudut jalan protokol ibu kota. Jakarta bersiap merayakan hari jadinya, sebuah ritual tahunan yang selalu meriah dengan panggung hiburan, seremoni potong tumpeng, dan pidato-pidato penuh pencapaian dari balik mikrofon berbalut jas rapi. Namun, di balik riuh rendah perayaan tersebut, publik seperti diajak menonton sebuah pertunjukan teater komedi getir yang naskahnya tidak pernah diganti sejak berdekade-dekade lalu. Seolah menjadi tradisi yang lebih kokoh dari monumen mana pun, sekelumit permasalahan dasar dan klasik tetap saja setia menyapa warga tanpa ada tanda-tanda akan pensiun.

Setiap kali musim hujan tiba, genangan air yang merendam pemukiman dan jalan raya selalu sukses memaksa warga untuk kembali bersabar, sebuah kata kunci legendaris yang selalu meluncur dari lisan para pemangku kebijakan. Romantisme kemacetan yang mengular di mana-mana juga tidak pernah absen menjadi menu sarapan harian yang melelahkan bagi para pekerja urban. Alih-alih menyelesaikan akar masalah transportasi dan tata ruang, warga justru disuguhi pemandangan pembangunan proyek fisik yang silih berganti tanpa henti, seolah-olah membongkar dan memasang kembali trotoar atau separator jalan adalah prestasi estetika tertinggi yang bisa dicapai oleh sebuah pemerintahan daerah.
Ironisme ini semakin menganga ketika kita melihat bagaimana wajah malam Jakarta bekerja. Di bawah gemerlap lampu neon, problematika kehidupan malam kota ini tumbuh begitu menonjol, menyajikan kontras yang luar biasa tajam antara mereka yang mengais recehan di emperan toko dengan mereka yang menghabiskan jutaan rupiah dalam semalam. Padahal, sejarah mencatat Jakarta dulunya adalah episentrum dari segala urat nadi perdagangan tradisional dan pusat bisnis yang kokoh. Seiring berjalannya waktu dan tuntutan zaman, pola-pola transaksional tersebut memang telah bergeser drastis menuju era digital yang serba cepat dan canggih, memindahkan pasar-pasar konvensional ke dalam layar gawai yang ringkas.

Sayangnya, lompatan digitalisasi dan modernisasi ekonomi ini menyisakan satu pertanyaan besar mengenai ke mana arah aliran berkahnya bermuara. Korelasinya terasa sangat menyakitkan ketika kita menengok angka Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jakarta yang nilainya selalu fantastis dan menembus langit, tetapi realitas di lapangan justru memperlihatkan jurang pemisah yang semakin lebar. Uang rakyat yang melimpah itu seolah menguap dalam bentuk gaya hidup hedonis dan pamer kemewahan yang kerap dipertontonkan oleh segelintir pemangku kebijakan. Ketika perayaan hari jadi nanti mengetuk pintu, kota ini sebenarnya tidak sedang kekurangan anggaran untuk menyelesaikan banjir atau macet, melainkan sedang krisis empati dari para pemimpinnya yang lebih memilih larut dalam kenyamanan ruang ber-AC ketimbang menuntaskan pekerjaan rumah yang sudah usang ini. (*)

Baca Juga : Muharram 1448 H dan Ujian Keadilan Ekonomi di Tengah Badai Global