Gen Z: Reformasi Sudah Selesai atau Cuma Ganti Pemain?
Oleh: Effra S. Husein
Kalau ngobrol soal Reformasi 1998 di warung kopi, biasanya yang paling semangat cerita adalah generasi yang mengalami langsung masa itu. Ceritanya macam-macam: harga kebutuhan pokok naik gila-gilaan, suasana politik panas, mahasiswa turun ke jalan, sampai momen ketika satu era akhirnya runtuh.
Sementara anak-anak Gen Z? Banyak yang lahir setelah semua itu selesai. Mereka tidak mengalami langsung. Reformasi buat mereka lebih sering hadir lewat pelajaran sejarah, video dokumenter di YouTube, potongan arsip di TikTok, atau cerita orang tua yang kadang muncul sambil bilang,
"Zaman dulu beda…”
Karena itu, cara Gen Z melihat Reformasi juga agak beda. Mereka tidak punya ikatan emosional seperti generasi sebelumnya. Cara melihatnya lebih seperti anak muda menilai aplikasi: sudah di-update, terus pertanyaannya, hasilnya bagaimana?
Di obrolan-obrolan anak muda, ada kecenderungan pendapat yang sering muncul.
Ada yang bilang kira-kira begini:
"Kalau nggak ada Reformasi, mungkin sekarang orang nggak bisa sebebas ini ngomong atau kritik pemerintah."
Masuk akal juga. Sebab generasi sekarang tumbuh di masa media sosial ramai, orang bebas berpendapat, kritik muncul setiap hari, dan informasi datang dari mana-mana. Buat mereka, kebebasan itu hal biasa. Padahal dulu, cerita dari generasi sebelumnya tidak sesederhana itu.
Tapi obrolan biasanya tidak berhenti di situ. Akan ada yang menyaut sambil menyeruput kopi:
"Iya, tapi kalau masalah lama masih banyak, berarti Reformasi belum selesai"
Nah, di sini obrolannya mulai panjang.
Korupsi masih jadi berita. Ketimpangan ekonomi masih terasa. Anak muda masih banyak yang bingung cari kerja. Politik dinasti masih sering jadi bahan debat.
Akhirnya muncul pertanyaan yang sering terdengar:
"Jangan-jangan Reformasi bukan selesai, cuma ganti babak dan pemain"
Anak-anak Gen Z juga punya cara sendiri melihat perjuangan. Kalau generasi 98 turun ke jalan bawa spanduk, generasi sekarang hidup di zaman media sosial. Isu bisa viral dalam hitungan jam. Tagar bisa ramai semalam.
Makanya ada kalimat yang cukup mewakili cara pandang generasi sekarang:
"Generasi 98 punya jalanan. Generasi sekarang punya algoritma."
Tapi masalahnya, dunia digital juga unik. Hari ini ramai, besok orang sudah pindah ke isu lain. Kadang perjuangan terasa cepat, tapi juga cepat hilang.
Di media sosial juga sering muncul obrolan lain: romantisasi masa lalu. Ada yang bilang zaman dulu lebih murah, lebih tertib, lebih nyaman. Lalu ada yang langsung menyahut:
"Yang enak diingat terus, yang nggak enaknya suka lupa."
Begitulah warung kopi. Satu orang ngomong, yang lain menimpali.
Mungkin memang bagi Gen Z, Reformasi bukan sekadar cerita jatuhnya satu kekuasaan pada Mei 1998. Bukan juga sekadar hafalan buku sejarah.
Bagi mereka, Reformasi itu pertanyaan yang sampai hari ini belum benar-benar selesai dijawab: negara ini mau dibawa ke mana, dan perubahan yang dulu diperjuangkan itu sudah sampai mana?
Karena ternyata, setelah kopi habis dan warung mulai sepi, pertanyaannya masih tinggal:
"Reformasi sudah selesai, atau sebenarnya baru mulai ?" (*)
Tentang Penulis:
Effra S. Husein; Ketua Umun HMI Cabang Solok 1991-1992, Pengurus PB HMI 1995-1997, Koordinator Media Center Kahmi Jaya 2025-Sekarang
Baca Juga : Badut-Badut MahaJana