KAHMI Jaya Dorong Pelestarian Budaya Betawi Lewat FGD Akulturasi
Jakarta, Kahmijaya.com – KAHMI Jaya berpartisipasi aktif dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema Akulturasi Budaya Betawi yang digelar oleh Sentra Kreatif Budaya Betawi di Hotel Mega Anggrek, Jakarta Barat.
FGD ini menghadirkan Ketua Umum Bamus Suku Betawi 1982 H. Zainuddin, M.H., S.E. (H. Oding) dan Ketua Umum KAHMI Jaya M. Ichwan Ridwan (Bang Boim) sebagai narasumber. Acara diikuti oleh unsur LMK, FKDM, serta tokoh masyarakat dari Kecamatan Palmerah.
Ketua Sentra Kreatif Budaya Betawi, Ririn Kusumawati, yang juga anggota Dewan Kota Jakarta Barat perwakilan Kecamatan Palmerah, menyampaikan bahwa diskusi ini diharapkan menjadi ruang untuk menggali bagaimana akulturasi budaya Betawi dapat memberi dampak positif bagi pelestarian seni, budaya, dan penguatan identitas masyarakat Betawi di era kota global.
Dalam paparannya, Bang Boim menegaskan peran penting KAHMI Jaya sebagai mitra strategis dalam penguatan identitas Betawi.
“KAHMI Jaya hadir untuk memastikan bahwa budaya Betawi tetap menjadi identitas utama Jakarta. Akulturasi bukan hanya warisan masa lalu, tetapi kekuatan untuk menghadapi masa depan. Kita ingin generasi muda memahami, mencintai, dan melestarikan budaya ini dengan cara yang relevan dengan zaman mereka,” tegas Bang Boim.
Sementara itu, H. Oding mengingatkan pentingnya implementasi regulasi terkait pelestarian budaya Betawi. Ia menyoroti Perda DKI Jakarta No. 4 Tahun 2015 yang mengamanatkan kehadiran ornamen Betawi di gedung-gedung dan penyediaan cinderamata Betawi di hotel-hotel Jakarta, namun hingga kini banyak yang belum terealisasi.
Diskusi berlangsung hangat dengan partisipasi aktif dari peserta yang memberikan berbagai masukan, di antaranya usulan agar budaya Betawi lebih dikenalkan kepada anak-anak sekolah melalui media kreatif seperti barcode pada buku pelajaran yang berisi penjelasan lebih detail tentang budaya Betawi.
KAHMI Jaya mendukung penuh upaya pelestarian budaya Betawi dan siap menjadi penghubung antara masyarakat, komunitas budaya, dan pemerintah untuk memastikan langkah nyata dalam menjaga identitas Betawi di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota global. (*)
Baca Juga : Politik Anggaran Kita: Efisiensi Atau Ilusi