Berita Detail

Bang Sem: Susarzah KAHMI Jaya, Kursus Pemulasaran Jenazah yang Sarat Nilai Keumatan

Bang Sem: Susarzah KAHMI Jaya, Kursus Pemulasaran Jenazah yang Sarat Nilai Keumatan

Jakarta, Kahmijaya.com – KAHMI Jakarta Raya (KAHMI Jaya) melalui Ketua Umumnya, Ridwan (Boim), mengunggah sejumlah dokumentasi kegiatan sosial budaya di laman media sosialnya beberapa hari lalu. Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah Susarzah, kursus pemulasaran jenazah yang digelar bersama FORHATI Jaya.

Kegiatan ini bukan berkaitan dengan politik atau ekonomi, melainkan menyentuh aspek paling mendasar dalam kehidupan sosial keagamaan umat Islam

“Saya apresiasi kegiatan yang sangat keren ini. Bagi organisasi lain, seperti Dewan Masjid, mungkin hal ini biasa atau reguler. Tapi bagi alumni HMI, kegiatan ini sangat penting karena terkait dengan konsiensi keumatan,” ujar Bang Sem, salah satu senior alumni yang menuliskan refleksi atas kegiatan tersebut dalam opinin/catatan Bang Sem di tilik.id

Dimensi Sosial dan Spiritual

Menurut Bang Sem, sebagai alumni HMI yang dikenal dengan konsep insan cita – cerdas, kreatif, religius, dan bertanggung jawab – kegiatan seperti Susarzah sejatinya menjadi manifestasi nilai dhamir khidmat al mujtama’i atau konsiensi keumatan. Hal itu juga sejalan dengan prinsip dasar Islam: hairunnaas anfa’uhum lin naas (sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain).

“Unggahan Boim bagi saya bukan sekadar dokumentasi, tapi sebuah ajakan sunyi. Sebuah aksi perkabaran tanpa pretensi, yang justru menyemai kesadaran untuk menanam dan menuai kebajikan,” tambahnya.

Ia menilai, pemulasaran jenazah merupakan bagian integral dari ibadah seorang muslim, sejajar dengan kewajiban mensalatkan, menghantarkan, hingga memakamkan jenazah. Bahkan, ia mengibaratkan prosesi kematian sebagai “ritual wisuda paling bermartabat” bagi seorang insan beriman.

Inspirasi dari Dunia Kerja

Dalam tulisannya, Bang Sem juga mengenang pengalaman pribadi ketika seorang sahabat di kantor pernah mengusulkan pelatihan pemulasaran jenazah dalam forum rapat kerja.

“Awalnya semua kaget, tapi setelah mendengar argumennya, kami sepakat. Ternyata banyak peminat. Sahabat saya itu kemudian menjadi penggerak, dan hasilnya luar biasa. Para peserta yang ikut kursus menjadi pribadi yang lebih tawadhu, bijaksana, bahkan siap mengurus jenazah di lingkungannya masing-masing,” kisahnya.

Menurutnya, pengalaman itu membuktikan bahwa kursus pemulasaran jenazah tidak hanya berdampak pada peningkatan pengetahuan teknis, tapi juga menanamkan nilai spiritual dan kepedulian sosial yang lebih luas.

Setara dengan Kursus Kepemimpinan

Bang Sem menyebutkan, program Susarzah yang digelar KAHMI–FORHATI Jaya layak disejajarkan dengan Suspim (kursus kepemimpinan) atau pelatihan pengembangan sumber daya manusia lainnya.

“Kalau Suspim menguatkan aspek manajerial, maka Susarzah menguatkan aspek keumatan. Bahkan pemulasaran jenazah adalah tanggung jawab dasar setiap muslim. Bagaimana mungkin kita tidak siap menghadapi itu ketika orang tua, kerabat, atau tetangga kita wafat?” tegasnya.

Ia pun mengingatkan kembali pesan Al-Qur’an: Innamal mu’minuuna ikhwah (sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara).

“Pemulasaran jenazah adalah manifestasi paling nyata dari persaudaraan itu. Karena itu saya menilai kegiatan ini sangat strategis dan patut diapresiasi,” pungkasnya. (*)

Catatan Redaksi:

Kegiatan Susarzah yang digagas KAHMI Jaya dan FORHATI Jaya bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan sebuah gerakan budaya. Ia mengajarkan cinta, kemanusiaan, dan keikhlasan yang kini makin langka di tengah masyarakat yang sibuk mengejar kuasa. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari perayaan HUT KAHMI 59 tahun 2025 






Baca Juga : Politik Anggaran Kita: Efisiensi Atau Ilusi